Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Menyambut Natal dan Tahun Baru 2025
Akhir tahun selalu membawa dua wajah: harapan dan kewaspadaan. Di Kabupaten Tanggamus, Lampung, Natal dan Tahun Baru 2025 hadir bersamaan dengan musim hujan yang kian basah, angin yang tak selalu ramah, serta laut yang kadang berubah tabiat. Inilah musim hidrometeorologi—saat hujan lebat, banjir, longsor, angin kencang, dan gelombang tinggi bisa datang tanpa undangan. Merayakan boleh, lengah jangan.
Bentang alam Tanggamus yang bergunung, berlembah, dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia menyimpan kerentanan khas. Daerah aliran sungai yang meluap, lereng yang jenuh air, pesisir dengan gelombang tinggi—semuanya menjadi catatan penting. Bencana bukan sekadar kemungkinan; ia adalah statistik yang menunggu kelalaian. Karena itu, kesiapsiagaan bukan jargon, melainkan disiplin bersama.
Langkah Nyata Pemerintah Daerah
Menjelang Nataru 2025, kesiapsiagaan perlu bergerak serempak antara lain dengan sosialisasi, pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana), Apel Siaga Bencana guna mengantisipasi dan upaya koordinasi lintas sektoral untuk memastikan:
- Peringatan dini yang hidup – Informasi cuaca dan peringatan bahaya harus mengalir cepat hingga tingkat pekon. Radio komunitas, grup warga, dan posko siaga tak boleh sunyi.
- Posko terpadu dan jalur evakuasi – Titik rawan dipetakan ulang, rambu diperjelas, dan jalur evakuasi dipastikan terbuka. Jangan menunggu hujan turun baru membuka peta.
- Kesiapan logistik dan layanan darurat – Stok pangan, obat, tenda, dan alat evakuasi disiagakan. Ambulans, perahu karet, dan personel terlatih harus siap bergerak dalam hitungan menit.
- Pengamanan kawasan pesisir dan wisata – Libur panjang menaikkan mobilitas. Pembatasan aktivitas laut saat cuaca buruk bukan larangan, melainkan perlindungan.
Peran Masyarakat: Garda Terdepan
Kesiapsiagaan paling kuat lahir dari warga yang paham risikonya sendiri. Membersihkan drainase, tidak membangun di sempadan sungai, menjaga lereng dari pembalakan, dan mematuhi peringatan cuaca adalah tindakan sederhana yang berdampak besar. Di sinilah gotong royong kembali menemukan maknanya—bukan seremoni, tapi refleks.
BPBD, TNI-Polri, tenaga kesehatan, relawan, tokoh agama, hingga pengelola wisata perlu satu irama. Simulasi kebencanaan sebelum puncak liburan akan menguji kesiapan, menutup celah, dan melatih ketenangan. Bencana sering kalah oleh latihan—jika latihan itu sungguh-sungguh.
Merayakan dengan Bijak
Natal dan Tahun Baru adalah waktu berkumpul, berdoa, dan menata harapan. Kesiapsiagaan tidak mengurangi sukacita; ia menjaganya tetap utuh. Di Tanggamus, kewaspadaan adalah bentuk cinta pada kehidupan—pada keluarga, tetangga, dan tanah yang kita pijak.
Mari menyambut 2025 dengan langkah ringan namun mata terbuka. Hujan boleh deras, angin boleh kencang, tapi kita lebih siap. Karena masa depan selalu berpihak pada mereka yang berjaga.

Komentar
Posting Komentar